Bapelkes Cikarang
  • Languages
<

Artikel

Mengulik “ Critical Eleven” dalam Penerbangan

                  Saat kita bepergian dengan pesawat, selalu ada protokol keselamatan yang disampaikan oleh pramugari sesaat sebelum terbang’ Take Off’ maupun sebelum mendarat “landing”. Diantaranya petunjuk keselamatan menggunakan pelampung, menggunakan masker oksigen,   anjuran untuk menegakkan kursi, sandaran tangan, menggunakan sabuk pengaman, membuka penutup jendela pesawat dan sebagainya.

                Dalam penerbangan terdapat titik kritis yakni tiga menit setelah terbang “take off”  dan delapan menit sebelum mendarat “landing”  sehingga dikenal sebagai 11 menit yang rawan/kritis. Karena lebih dari 80 % Kecelakaan pesawat umumnya terjadi saat landing maupun take off.  Dan disaat itu terjadi, penumpang cuma punya waktu 90 detik buat keluar dari pesawat. Pintu darurat yang disiapkan cukup menampung sekitar 65 penumpang, terbayang kepanikan bila terjadi kecelakaan saat di udara, karena sistem oksigenasi di dalam pesawat otomatis telah berhenti, semakain menambah runyamnya situasi dalam kondisi darurat tersebut. Selingan informasi “Critial Eleven” menjadi judul novel romantis, penulisnya Ika Natassa, yang diceritakan  tokoh utamanya Ale dan Anya saling bertemu dipesawat dengan memanfaatkan momen take off dan landing. Novel tersebut juga dibawa ke layar lebar dengan judul yang sama. Titis kritis 11 menit dijadikan plot utama  dalam rangkaian kisah di novel tersebut.

                Keselamatan dalam berpesawat menjadi yang nomor satu sesuai slogan organisasi penerbangan Sipil International International  Civil Aiation Organization (ICAO) yaitu Safety First at Flight” , dimana Indonesia menjadi anggotanya dan berkwajiban untuk memunhi standar demi keselamatan dan keamana berkendara di udara.

                Kembali tentang 11 menit Kritis dalam penerbangan, penting bagi kita untuk memahami dan melaksanakannya sesuai prosedur yang disampaikan oleh awak kabin/pramugari/a. Adapun makna yang bisa kita camkan untuk dipatuhi sebagai berikut:

  1. Membuka penutup Jendela

Saat pesawat terbang, jendela sebagai bagian dari alat keselamatan, bilamana tiba-tiba muncul percikan api, bongkahan es di sayap pesawat, atau burung  yang tidak mungkin akan dilihat oleh kru pesawat (pilot, kopilot maupun Pramugara/ri). Pentingnya kerjasama dari penumpang untuk peduli terhadap keselamatan dan keamanan pesawat yang ditumpanginya.

  1. Menegakkan sandaran kursi dan sandaran tangan

Mengingatkan bila saat darurat, pesawat akan berhenti mesinnya, lampu otomatis padam, dan reflek penumpang adalah melarikan diri. Apabila sandaran kursi belum sempurna, pegangan tangan belum pada tempatnya, waktu yang sekitar 1,5 menit sangat terbatas dan menghalangi evakuasi penumpang. Mudahnya kita akan terhalangi saat harus keluar dari deretan kursi penumpang, bila posisi sandaran dan meja tidak pada posisi aman.

  1. Mematikan lampu baca saat landing maupun take off

Padamnya lampu pesawat saat darurat, otomatis mata kita akan bereaksi dengan membesar mengecilnya pupil sesuai arah sinar. Bial kita terbiasa cahaya redup/temaram saat take off/landing, disaat sitausi darurat /mesin pesawat mati otomatis gelap, kita tidak perlu beradaptasi lama untuk melihat situasi kondisi yang ada. Sehingga akan mempermudah proses evakuasi.

  1. Barang diletakkan di kabin ataupun dibawah kursi

Serupa dengan kondisi menegakkan sandaran kursi, meja dan sandaran tangan. Bila barang penumpang berserakkan, otomatis jalur evakuasi akan terhalang dan itu memperlambat penumpang menyelamatkan diri.

  1. Menggunakan sabuk pengaman saat landing maupun take off

Kesannya sepele, sabuk pengaman yang kecil seringkali kita abai menggunakan saat take off maupun landing.Padahal saat kecelakaan atau kondisi darurat, sabuk ini bisa menjadi salah satu sarana untk keselamatan kita. Benturan keras/hentakan jatuhanya pesawat akan melemparkan penumpang sesuai gaya sentrifugal. Jadi kita tidak boleh menyepelekan sabuk pengaman ini.

  1. Panduan dari kru kabin maupun video keselamatan yang selalu ada disetiap pemberangkatan pesawat. Sebaiknya tetap memeperhatikan secara seksama, karena disaat kita panik, reflek menyelamatkan diri kita tergantung dari memori pendek dan alam bawah sadar kita. Kalau kita selalu memperhatikan demonstrasi keselamatan oleh kru kabin,saat kondisi darurat kita akan segera mengingat dimana letak pelampung dan cara menggunakan (bila pendaratan darurat di air) ataupun bagaimana cara membuka pintu/jendela darurat bagi penumpang yang duduk dekat area tersebut. Mengingat lampu evakuasi/arah pintu terdekat dari kita duduk. Penggunaan Masker oksigen saat tekanan kabin yang tiba-tiba turun sehingga, perlu mengguankan oksigen .

Jadi mari kita senantiasa memperhatikan yang kecil dan tidak mengabaikannya demi keamanan, keteraturan dan keselamatan dalam berpesawat. Membudayakan perilaku selamat menunjukkan budaya bangsa yang bermartabatJ.

 

Ditulis ulang dari sumber bacaan :

Have a Safe Flight  https://www.femina.co.id/article/have-a-safe-flight--  diakses tanggal 25 januari 2018 2.00 pm

Critical Eleven Ika Natassa pustaka-indo.blogspot.com, diakses 22 januari 2018

Faktor Keselamatan Penerbangan http://ksirega.blogspot.co.id/2014/12/makalah-keselamatan-penerbangan.html diakses diakses tanggal 25 januari 2018, 2.17 pm

Sedikit Pengetahuan Tentang Safety saat naik Pesawat, https://steemit.com/indonesia/@hendra73/sedikit-pengetahuan-tentang-safety-saat-naik-pesawat, diakses 1 februari 2018 10.00 am

leave a comment